Monday, January 28, 2013

AKU – SENDIRI – DIGELAPNYA- MALAM- DAN – DIBALIK HUJAN YANG DERAS


Artikel yang dibuat oleh Nurcahyani Dwi R

Hujan turun, disaat aku sedang mengetik sebuah artikel. Artikel ini akan kubuat seindah mungkin dan akan ku hiasi dengan kata-kata yang manis. Pertama-tama akan kutaburi dengan butiran gula kemudian lanjut ke ucapan, lalu ucapan itu menuju kehati kemudian isi hati berjalan menuju mulut dan akhirnya mulut ini akan mengungkapkan segalanya tentang perasaan ini.
Hujan deras, aku segera bergegas untuk mempercepat ketikanku. Aku mengetik berdasarkan hati dan juga kemauan. Bukan hobby melainkan pelampiasan. Ya pelampiasan ketika atau disaat-saat aku sedang galau, bingung, frustasi dan sebagainya.  Aku mengetik berdasarkan angan-anganku. Berdasarkan fikiranku. Berdasarkan hatiku. Tapi, bukan berdasarkan pengalamanku. Yaa memang beberapa ada yang berdasarkan pengalaman. Tapi tidak semua hanya beberapa.
Hujan semakin deras, aku semakin ingin cepat-cepat untuk mengetik apa yang kurasakan malam ini.
Malam ini, hujan turun begitu deras. Aku hanya dapat berdiam dikamar. Aku memandang dunia dengan mata namun bukan mata yang biasa orang punya tapi dengan mata angan-angan. Dengan mata angan-anganku ini aku dapat membayangkan betapa indahnya dunia ini. Seolah-olah aku terbang. Dapat menembus semua awan dan melewati batas atmosfer sehingga aku dapat melihat bahwa indahnya dunia ini. Alam ini. Dan semuanya. Tapi disaat-saat aku berangan-angan indah ..... ada satu yang membuatku kecewa. Satu yaitu seorang pendamping. Aku selalu sedih atau terdiam jika seseorang bertanya hal itu padaku. Terkadang aku hanya merespond dengan tawa dan candaan. Kenapa sedih? Karena menurutku hidup didunia yang penuh keindahan akan terasa hampa jika tanpa pendamping. Alam saja butuh pendamping untuk merawatnya apalagi denganku? Aku, makhluk hidup, makhluk sosial yang selalu membutuhkan pendamping. Makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri, semua manusia butuh teman, pendamping, kerabat dsb.
Berharap jika aku sedang berangan-angan aku tidak ingat tentang itu. Karena jika aku ingat itu sama saja aku merusak angan-anganku sendiri.
Aku duduk dibalik tirai jendela. Menatap langit dan bintang-bintang disana sambil melihat tetesan embun yang menempel dijendelaku. Galau? Ya untuk kali ini aku galau. Bisa bayangkan? Kamarku sudah benar-benar mendukung untuk bergalau ria. Dikamar yang penuh kehampaan. Duduk dibalik tirai jendela mendengar musik melow sambil menatap langit malam disana. Jika ada seseorang yang bertanya mengapa aku galau? Aku bingung mau jawab apa? Karena aku tidak merasakan apa-apa hanya saja kalau galau itu perasaanku tiba-tiba berubah menjadi adem, sejuk dan begitu damai. Kalau aku terlihat galau berarti aku sedang berangan-angan. Aku senang berkhayal, berkhayal membuatku dapat menciptakan sesuatu dalam bentuk karya.
Pikiranku semakin tenang mendengarkan merdunya hujan yang turun dan lembutnya pancaran sinar bulan kebumi. Andai saja bukan hanya aku saja yang dapat merasakan ini semua. Aku berharap sekali suatu saat nanti akan ada seseorang yang akan menmpati posisi disampingku untuk melihat dan merasakan ini semua ketika aku berangan karena menurutku dunia yang sebenarnya ialah angan-angan (khayalan) karena bagiku didalam itu semua lebih indah dibanding apa yang pernah dialami sebelumnya.

No comments:

Post a Comment