Artikel yang dibuat oleh Nurcahyani Dwi R
Hujan turun, disaat aku sedang mengetik sebuah artikel.
Artikel ini akan kubuat seindah mungkin dan akan ku hiasi dengan kata-kata yang
manis. Pertama-tama akan kutaburi dengan butiran gula kemudian lanjut ke
ucapan, lalu ucapan itu menuju kehati kemudian isi hati berjalan menuju mulut
dan akhirnya mulut ini akan mengungkapkan segalanya tentang perasaan ini.
Hujan deras, aku segera bergegas untuk mempercepat
ketikanku. Aku mengetik berdasarkan hati dan juga kemauan. Bukan hobby
melainkan pelampiasan. Ya pelampiasan ketika atau disaat-saat aku sedang galau,
bingung, frustasi dan sebagainya. Aku
mengetik berdasarkan angan-anganku. Berdasarkan fikiranku. Berdasarkan hatiku.
Tapi, bukan berdasarkan pengalamanku. Yaa memang beberapa ada yang berdasarkan
pengalaman. Tapi tidak semua hanya beberapa.
Hujan semakin deras, aku semakin ingin cepat-cepat untuk
mengetik apa yang kurasakan malam ini.
Malam ini, hujan turun begitu deras. Aku hanya dapat
berdiam dikamar. Aku memandang dunia dengan mata namun bukan mata yang biasa
orang punya tapi dengan mata angan-angan. Dengan mata angan-anganku ini aku
dapat membayangkan betapa indahnya dunia ini. Seolah-olah aku terbang. Dapat
menembus semua awan dan melewati batas atmosfer sehingga aku dapat melihat
bahwa indahnya dunia ini. Alam ini. Dan semuanya. Tapi disaat-saat aku
berangan-angan indah ..... ada satu yang membuatku kecewa. Satu yaitu seorang
pendamping. Aku selalu sedih atau terdiam jika seseorang bertanya hal itu
padaku. Terkadang aku hanya merespond dengan tawa dan candaan. Kenapa sedih?
Karena menurutku hidup didunia yang penuh keindahan akan terasa hampa jika tanpa
pendamping. Alam saja butuh pendamping untuk merawatnya apalagi denganku? Aku,
makhluk hidup, makhluk sosial yang selalu membutuhkan pendamping. Makhluk
sosial tidak bisa hidup sendiri, semua manusia butuh teman, pendamping, kerabat
dsb.
Berharap jika aku sedang berangan-angan aku tidak ingat
tentang itu. Karena jika aku ingat itu sama saja aku merusak angan-anganku
sendiri.
Aku duduk dibalik tirai jendela. Menatap langit dan
bintang-bintang disana sambil melihat tetesan embun yang menempel dijendelaku. Galau?
Ya untuk kali ini aku galau. Bisa bayangkan? Kamarku sudah benar-benar
mendukung untuk bergalau ria. Dikamar yang penuh kehampaan. Duduk dibalik tirai
jendela mendengar musik melow sambil menatap langit malam disana. Jika ada
seseorang yang bertanya mengapa aku galau? Aku bingung mau jawab apa? Karena
aku tidak merasakan apa-apa hanya saja kalau galau itu perasaanku tiba-tiba
berubah menjadi adem, sejuk dan begitu damai. Kalau aku terlihat galau berarti
aku sedang berangan-angan. Aku senang berkhayal, berkhayal membuatku dapat
menciptakan sesuatu dalam bentuk karya.
Pikiranku semakin tenang mendengarkan merdunya hujan yang
turun dan lembutnya pancaran sinar bulan kebumi. Andai saja bukan hanya aku
saja yang dapat merasakan ini semua. Aku berharap sekali suatu saat nanti akan
ada seseorang yang akan menmpati posisi disampingku untuk melihat dan merasakan
ini semua ketika aku berangan karena menurutku dunia yang sebenarnya ialah
angan-angan (khayalan) karena bagiku didalam itu semua lebih indah dibanding
apa yang pernah dialami sebelumnya.
No comments:
Post a Comment